Takdir bag 59 by Tahniat

Takdir bag 59 by Tahniat. Jalal duduk di meja makan menunggu sarapan yang sedang di siapkan Jodha sambil menyentuh layar ipadnya. Jalan memecah kesunyian dengan berkata, “kita pulang ke Agra hari ini. Aku sudah pesan tiketnya. Flight jam 11 siang. Bersiap-siaplah Jodha…” Jodha menyodorkan sepiring french toast dan secangkir cappucino ke depan Jalal, “apakah Surya tahu?” Jalal menganguk, “dia yang membelikan tiketnya. Saat ini, dia sedang dalam perjalanan kemari..” Jodha tersenyum, “nikmati sarapanmu. AKu akan bersiap-siap.” Jodha hendak beranjak pergi ketika Jalal menahanya dengan meraih pergelangan tanganya, “temani aku dulu. Ada yang ingin ku katakan.” Jodha menurut . Dia menarik kursi yang ada di samping Jalal, lalu duduk menunggu.

FF Jodha akbar Destiny2Jalal menelan roti yang menyumpal mulutnya dan menyeruput kopinya. Menarik nafas perlahan, lalu berkata, “sejak kita menikah, aku tak pernah memberi ketenangan padamu. AKu selalu memberimu masalah dan membuatmu berada dalam masalah…” Jodha hendak membuka bibirnya untuk berkata, tapi Jalal dengan cepat menyilangkan telunjuknya dibibir Jodha, “ssttt… biarkan aku bicara dulu.”  Jalal kembali menarik nafas, menatap Jodha dengan tatapan penuh sesal yang di selipi binar-binar cinta, “untuk itu aku minta maaf padamu. Seterusnya…jika kau memutuskan untuk terus melangkah di sampingku, aku akan berusaha lebih baik lagi untuk menjagamu dan membahagiakanmu. Aku tidak bisa menjanjikan kesempurnaan, Jodha. Tapi aku akan berusaha sebaik-baiknya… untuk tidak membuatmu kecewa. Aku mencintaimu Jodha….sangat mencintaimu. Aku tidak akan bahagia kalau kau tak ada di sisiku.”

Jodha meraih jemari Jalal dan menggenggamnya, “aku akan selalu mendampingimu, sampai ajal menjemputku.  Maafkan juga keegoisanku selama ini. Aku selalu salah mengartikan kekuatiran dan perhatianmu…” Jalal meraih kepala Jodha dan mencium keningnya dengan mesra. Jodha melingkarkan tanganya memeluk Jalal dan menyandarkan kepalanya di pundak kokoh suaminya dengan rasa damai menyelimuti hatinya. Setelah perjalanan panjang, akhirnya dia bisa merasa tenang dalam pelukan Jalal, tanpa keraguan, ketakutan dan prasangka seperti yang selama ini di rasakannya setiap kali mereka berdua bersama. Setitik airmata mengalir di sudut mata Jodha mengiringi kebahagiaan yang di rasanya. Benar kata orang, air mata tidak hanya muncul saat kita berdua. Saat hati bahagiapun, air kehidupan itupun dapat menitik keluar.

Hati Jalalpun di liputi keharuan mendengar kata-kata Jodha. Ada rasa bahagia saat mencium aroma tubuh Jodha dan kehangatan yang mengalir dari kulitnya. Jalal merasa hidupnya telah di sempurnakan oleh Jodha dan bayi yang di kandungnya. Dia merasa bahagia. Tak ada lagi yang diinginkannya selain menghabiskan sisa hidup bersama wanita yang dicintainya itu. Jalal berguman lirih, “Salim…” Jodha mengangkat kepalanya dan menatap Jalal dengan rasa ingin tahu. Jalal mengangguk, “ya Jodha, jika dia laki-laki… aku akan memberinya nama Salim. Jika perempuan…”  Tiba-tiba bel pintu berdering. Jodha segera bergegas berdiri dan beranjak untuk membuka pintu. Jalal tersenyum..penuh arti.

Begitu pintu terbuka, Surya masuk kedalam danmenyapa Jalal yang sudah berdiri menanti di ruang tamu. Melihat jalal, Surya berkata, “kau sudah membaca pesanku? Penerbanganmu take of jam 11 siang.” Jalal mengangguk, “ya. Terima kasih, atas bantuanmu. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikanmu.” Surya dengan tatapan mengoda, melirik kearah Jodha, “kau tahu pasti apa yang kuinginkan. Kalau kau mau kau bisa memberikannya padaku!” Jalal dengan wajah merona dan tatapan tajam, menyahut ketus, “jangan pernah memikirkannya! Membayangkanyapun kau di larang!” Surya tersenyum mengoda, “kalau dia mau, tak ada yang bisa melarangnya..” Jalal hendak berkomentar membalas Surya, ketika Jodha dengan tatapan bingung bertanya, “apa yang sedang kalian bciarakan?” Jalal segera tersadar dan cepat-cepat meyahut, “tidak ada… kami…” Jalal menatap Surya dengan tatapan mengancam. Surya tertawa dan menyerahkan buntelan yang ada di tangannya pada Jodha, “ini ada titipan dari Raja untukmu. Coba periksa isinya, apakah masih lengkap?” Jodha dengan heran bertanya, “Raja? Dia menemuimu?” Surya menggeleng, “aku yang ingin bertemu denganya. Aku menelponnya ke nomer mu, lalu kami bertemu. DI aminta maaf karena telah berbuat kasar padamu dan menyerahkan tas itu kembali padamu.” Jodha membuka tasnya dan menelitinya isinya. Semua masih lengkap seperti semula. Tidak ada apapun yang hilang. Jalal bertanya dengan serius, “apakah kau akan melaporkannya pada polisi?” Surya terbelalak, “apa kau gila? Dia sudah membantu Jodha. Aku memintanya untuk bekerja padaku sebagai bodyguard. Kurasa itu sesuai dengan pengalaman dan kepandaiannya.” Mendengar penjelasan Surya, Jodha tersenyum bahagia, “terima kasih, Surya. Dia telah berbuat baik padaku. AKu yakin sebenarnya dia mempunyai sifat yang baik, hanya keadaan yang memaksanya melakukan itu.” Surya mengangguk, “Itu pula yang di katakannya padaku. Oh ya, kalianbersiap-siaplah, aku akan ke kantor sebentar. AKu akan mengantarmu ke bandara jam 10.” Jalal mengangkat tangannya. Jodha mengantarnya sampai ke pintu.

Jodha meletakkan tasnya di meja dan kembali ke meja makan untuk membereskanbekas sarapan sarapan jalal. Jalal mengikutinya. Melihat jalal, Jodha teringat percakapannya dengan Surya beberapa saat yang lalu. Jodha bertanya, “apa yang di minta Surya darimu?” Jalal pura-pura tak mendengar. Jodha menambah volume suaranya, “dear…” Jalal terpaksa mengangkat wajah menatap Jodha, “apa?” Jodha tahu jJalal pura-pura tak mendengar, “apa yang di minta Surya darimu?” Jalal terlihat bingung, tak tahu harus berkata apa, “hmmmm….. dia..dia bilang dia …..” Jalal menghentikan kalimatnya, menarik nafas panjang lalu kembali berkata dengan lancar, “Surya bilang kalau aku ingin membalas kebaikannya, dia ingin meminta dirimu dariku.” Jodha tertawa, “dia hanya bercanda. Sebentar lagi dia akan menikah dengan Sukanya. Dan lagi mana ada pria yang mau dengan wanita yang sedang hamil..” Jalal menatap Jodha dengan tatapan yang sulit di artikan. Dalam pikiran Jalal, Jodha benar-benar naif. jalal menghampiri Jodha, danberdiri didepannya. Jodha meletakan kembali piring yang di pegangnya ke atas meja dan berdiri menunggu. Jalal mengelus pipi Jodha dan menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. Dalam hati Jalal berkata, “kau tidak tahu betapa banyak pria yang tergoda untuk melirikmu dan ingin memilikimu. Dan aku adalah satu-satunya pria yang beruntung. Aku akan menjagamu, tak kan kubiarkan siapapun merampas dirimu dariku. Aku mencintaimu Jodha.” Dengan tatapan nanar, Jalal mendekatkan bibirnya dan mencium pipi Jodha. Lalu berbisik lembut di telinganya, “I love you, Jodha.”

Jodha mengangkat wajahnya menatap jalal dengan perasaan bahagia. Dadanya terasa sesak oleh emosi yang meluap-luap. tak ada kata yang keluar dari bibirnya, hanya matanya saja yang berkaca-kaca. Entah mengapa, rasa haru selalu datang menyesaki romgga dadanya setiap kali Jalal mengatakan cinta padanya. Jodha balas membelai wajah jalal dengan penuh cinta dan berguman lirlih, “I love you too, dear.” Jodha menarik wajah jalal agar menunduk. Lalu dia mencium kening jalal, mengecup kedua matanya, lalau turun ke pipinya dan satu sentuhan lembut dari bibirnya di bibir Jalal, membuat jalal menginginkan lebih. Tanpa buang waktu, Jalal segera melumat bibir Jodha dengan penuh perasaan….. Takdir bag 60 by Tahniat – Episode Terakhir.

NEXT