Sinopsis Gangaa episode 169 by Meysha Lestari.

Sinopsis Gangaa episode 169 by Meysha Lestari. Sagar terkejut dengan penyangkalan yang di lakukan Gangaa terhadap dirinya, “Gangaa apa yang kau katakan? AKu sedang membantu dirimu!” Gangaa menolak bantuan dari siapapun. Gangaa bertanya pada Sahyogi, “apakah kau juga akan mengeluarkan Mahant Ji dari kompetisi jika ada penonton yang mengatakan sesuatu untuk mendukungnya? Mengapa kau lakukan ini padaku?” Sahyogi tahu kalau Gangaa melakukan itu agar Shard kakek Sagar bisa di laksanakan. Gangaa berkata kalau dirinya tidak pernah bohong, “dia bahkan tidak sekolah di sekolahku. Bagaimana dia bisa menjadi temanku? Dia berasal dari rumah kaya. Aku melakukan ini untuk nenek ku.” Sagar merasa buruk, “aku menolak untuk memanggilmu temanku tapi ini caramu balas dendam padaku? kau bicara seperti ini di depan semua orang?”
Dalam mobil, nenek terus menerus memikirkan ibu Bal Mahant yang meminta bantuannya. Nenek dalam dilema. Jika Gangaa menang, maka Bal Mahany akan mati, “aku ingin dia kalah tapi hidup Gangaa juga akan ada dalam bahaya kalau dia kalah.” Tiba-tiba mobil nenek mogok. Nenek melihat Sudha dan Mamta, nenek memanggilnya.
Gangaa bertanya pada mereka lagi jika mereka terpedaya oleh kata-kata orang semudah itu, “kalian salah kalau menyebut aku pecundang seperti ini.” Sahyogi berpikir bahwa Gangaa sangat pintar, “dia membuat drama yang lebih besar dari pada aku.” Pendeta juri mendukung Gangaa, “kalau anak laki-laki itu benar-benar bukan temannya, maka akan salah kalau kita  mendiskualifikasi dia.” Sahyogi memberi isyarat pada murid-muridnya untuk membawa Sagar pergi dari sana. Sagar merasa buruk karena Gangaa menolak mengakuinya sebagai teman. Sagar memberontak, tapi tidak bis aberbuat apa-apa. Juri pendeta mengizinkan Gangaa mengambil bagian ronde berikutnya.
Sudha binggung mengetahui kalau nenek ingin Gangaan kalah, “hanya ada satu solusinya tapi kau harus melakukan apa yang aku katakan!”
 
Prabha sedang berjalan di jalan sambil menyanyikan sebuah lagu ketika  sebuah mobil lewat di sampingnya. Bajunya menjadi kotor terkena percikan lumpur. Mobil itu berhenti. Prabha ribut dengan sopir tentang biaya loundry. Pemilik mobil turun dan mengejek Prabha. Prabha mengenali wanita itu sebagai teman sekolahnya. Si wanita terlihat bingung. Tapi lambat-lambat dia ingat Prabha. Prabha memeluknya dengan paksa. Si wanita berpikir kalau Prabha tidak berubah, “kau masih sama, tidak berubah!” Suami wanita itu adalah seorang pengawai tingkat tinggi di kantor pajak. Dia baru saja di pindahkan ke Banaras. Prabha tidak  mencertakan tentang suaminya, tapi dia membanggakan Niru. Prabha menunjukan jalan menuju kerumahnya. Temannya berkata kalau itu adalah daerah berstandar rendah. Prabha mengundang temannya untuk mampir ke rumah Niru, “kita akan minum teh dan camilan.” Temannya coba menolak, tapi Prabha memaksa.
Putaran berikutnya adalah uji kemauan dari kedua peserta. Gangaa dalam hati meminta maaf pada Sagar atas apa yang sudah dia lakukan, “aku harus memenuhi kata-kataku. Aku akan memperbaiki semuanya begitu aku kembali ke dalam rumah. Aku tinggal denganmu lagi setelah semua ini.”
Pendeta juri meminta kedua peserta berdiri diatas sebuah kayu gelondongan, “siapa yang bisa berdiri paling lama akan menang. Tak boleh ada dukungan atau pegangan.” Penonton membicarakan hal itu. Mereka menganggap itu sulit. Tapi Mahant Ji menganggap itu mudah. Lalu keduanya, Gangaa dan Mahant Ji berdiri di atas kayu itu. Awalnya keduanya terlihat kesulitan. karena kayu bergerak-gerak. Gangaa langsung teringat tentang perkataan Niru ketika dia menyuruhnya belajar. Gangaa mengatakan kalau dirinya tidak dapat belajar apapun. Niru menasehati gangaa agar kosentrasi, “kemauanmu harus kuat dan kau seharusnya tidak memikirkan sesuatu yang negatif. maka tak akan ada yang salah.” Gangaa teringat kata-kata Niru itu. Dia lalu berkosentrasi. Dia memejamkan matanya dan memusatkan pikirannya. Gangaa berhasil menyeimbangakan diri dan berdiri diam di atas kayu. Sedangkan Mahant Ji terlihat kesulitan. Mahant Ji terkejut melihat ketenangan yang di tunjukan gangaa. Mahant Ji tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan jatuh. Gangaa masih berdiri di tempatnya dengan tenang. Orang-orang kagum dengan kampuan Gangaa. Dengan begitu Gangaa memenangkan ronde ini. Dalam hati, Gangaa mengucapkan terima kasih pada Niru.
Sahyogi meminta waktu beberapa menit. Dia masuk kedalam dan berpikir, “Bal mahan ini akan menjatuhkan aku. Dia tak punya otak. Mengapa aku harus mengkhawatirkan dia? Aku akan tetap menang meski dia kalah.” Seorang murid bertanya, mengapa Sahyogi terlihat gembira, “apakah anda tidak cemas?” Sahyogi menjelaskan kalau kematian Bal Mahant akan menguntungkan mereka, “biarkan dia kalah. Diarkan dia melakukan Jal Samadhi. orang-orang akan semakin berdedikasi. Semakinbesar dedikasi mereka, maka semakin besar sumbangan mereka….. dan itu akan menjadi milik kita!” Sahyogi sama sekali tidak mencemaskan nasib Bal Mahant. Dia merasa bal Mahant beruntung dia akan di sebut hebat meski dia kalah. Orang-orang membicarakan Bal Mahant akan melakukan Jal Samadhi, “hanya dia yang bisa melakukan itu. Orang biasa seperti kita tak akanbisa melakukannya.” Sahyogi mendengar pembicaraan mereka dan sangat gembira.
Di luar Sagar memikirkan kata-kata gangaa, “aku membawakanmu begitu banyak info. Aku menganggap dirimu temanku, tapi kau…! Kau telah membalas dendam atas penghinaanku. Mengapa aku harus menolongmu kalau kau tidak perduli! AKu akan pergi.” Sagar mendengar orang-orang bertepuk tangan, “siapa yang memberi jawaban benar? AKu tak peduli siapa yang menang dan siapa yang kalah!” Sagar melihat nenek datang sambil naik becak. Sagar cemas, “nenek datang untuk memastikan Gangaa kalah. Apa yang akan terjadi sekarang? Jika dia kalah, maka dia harus melakukan Jal Samadhi. AKu tak boleh membiarkan sesuatu terjaid padanya. Aku tak bisa membiarkan dia mati meski dia tidak menganggap diriku temannya. Aku akan menghentikan nenek!” Nenek juga melihat Sagar, dia terlihat tidak senang. Nenek berkata dengan kesal, “kau mencurangi semua orang agar bis amembantu Gangaa.” Sagar tidak memberi nenek jalan, “aku tahu nenek tidak mau Gangaa menang. Nenek tak mau dia kembali kerumah.” nenek mengancam Sagar agar tidak membuarnya hilang kesabaran, “kalau tidak aku akan menamparmu hari ini!” Sagar tidak perduli, dia hanya ingin Gangaa menang. Nenek teringat kata-kata Prabha, “kau benar. AKu jahat. Aku harus berbuat jahat sekarang. AKu tak punya pilihan.” Nenek menerobos masuk. Sagar bingung, siapa yang akan bisa menghentikan nenek sekarang.
DI pasar, Mehri haus membeli banyak barang tapi uangnya tinggal sedikit. Dia berpikir untuk peri ke kantor Niru tapi membatalkannya, “dia mungkin sedang sibuk bekerja. AKu akan pulang dan minta uang dari nyonya.” barkha tiba dengan bajaj, Mehri melihatnya. Mehri hendak bertanya mengapa Barlha ada di situ. Mehri mulai menyebrangi jalan ketika dia harus berhenti karena ada mobil yang leat. Saat tiba di seberang, Barkha sudah lenyap. 
Niru memarahi Madhvi karena telah memberi ide pada Barkha untuk tinggal di asrama. Madhvi coba menjelaskan tapi Niru tak ingin orang tua barkha berpikir buruk tentang mereka. Madvi menjelaskan bahwa mungkin ini akan menciptakan masalah untuk Barkha kalau dia harus melakukan perjalanan jauh. Niru berkata tentang kehormatan mereka. Niru terus memarahi Madhvi. Barkha meminta Niru agar tidak menyalahkan Madhvi, “aku seharusnya memberitahumu tentang ini. Jangan bicara pada kakak ku seperi itu.” Nirupun pergi. Barkha meminta maaf pada madhvi sambil memeluknya. Dia meminta madhvi membuatkan sesuatu untuknya, “aku sangat lapar di Kolej hari ini.” Mehri mendengar itu dan berpikir, “dia tidak ada di kolej. Dia kelayapan di depan kantor tuan Niranjan. Sadar pembohong!”  Barkha mengingatkan Madhvi tentang kejutan malam ini, “dia akan gembira. Aku akan bernganti dan kemudian memberitahumu apa yang harus kau lakukan untuk merubah mood kakak ipar.” Madhvi terlihat sedikit tidak nyaman. Mehri memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada nenek, “kak barkha telah berbohong pada kakakknya sendiri.”
Putaran akhir kompetisi. Gangaa dan Mahant Ji masing-masing memegang lonceng kecil di tanganya. Mereka akan mendapat sebuah pertanyaa. Siapa yang menjawab pertama kali dan benar akan di nobatkan sebagai pemenang, “kalian tidak akan punya waktu untuk berpikir. Kalian harus egera menjawab beritu pertanyaan di berikan. Kalian akan mendapat nilai atau kalah tergantung pada jawaban kalian.”
Murid-murid Sahyogi mengurung ibu Bal Mahant. Sementara dirinya merencanakan sesuatu yang besar. Sahyogi tidak lagi terlihat tegang. Kalau Mahant Ji menang, maka itu bagus. kalau dia kalah akan lebih bagus lagi, “aku tak perduli dengan hidupnya.” Sahyogi kaget melihat nenek masuk kedalam.
Sambil menangis Sagar menelpon ayahnya. Niu bertanya, “apa yang terjadi Sagar?” Sagar memmberitau Niru tentang jal Samadhi dengan detail. Niru terkejut mendengarnya. Sagar meminta Niru menyelamatkan gangaa, “nenek tidak akan membiarkan dia menang. Jika dia kalah maka dia haus mati! Kumohon, datanglah kesini, papa!” Niru segera bangkit.
Nenek bergabung dengan para penonton yang menonton kompetisi. Gangaa menjawab dengan pertanyaa untuk pertanyaan, “berapa banyak waktu yang di butuhkan untuk mengelilingi dunia?” Gangaa menjawab kalau ayahnya adalahh dunianya, dia hanya butuh 1 menit untuk mengelilinginya. Gangaa  ingat Pishi Ma menceritakan hal yang sama tentang dewa ganesha. Sahyogi menantang jawaban gangaa. Gangaa bertanya balik pada Sahyogi menggunakan dewa Ganesha. para penonton membenarkan jaawaban Gangaa. Gangaa mendapat nilai.
Pertanyaa berikutnya, “apa yang paling cepat gerakannya?” bal mahant menjawab angin. Gangaa ingat kata-kata ayahnya bahwa hati adalah yang tercepat, “dia bis amembawamu kemana saja dalam wakt sekejab. Tak ada yang bsia mengalahkannya.” Gangaa memberikan jawabannya. Nenek dan Bal Mahant kaget mengetahui kalau jawaban Gangaa benar. Kata-kata ibu Bal Mahant bergema di benak nenek. Nenek menyuruh gangaa agar tidak membunyikan loncengnya. Gangaa berpikir nenek melakukan itu agar dirinya tidak kembali kerumah nenek. Nenek berkata dia melakukan itu agar seorang ibu tidak kehilangan anaknya. Nenek mendekati Gangaa, “kau tahu tidak akan terjadi apa-apa kalau kau menang. Tapi kalau Bal mahant kalah maka dia harus melakukanJal Samadhi.” Nenek memberitahu Gangaa tentang pertemuannya dengan ibu Bal Mahant, “kalau dia kalah, maka ibunya akan mati bersamanya. Kau tak boleh menang. Terima kekalahan.” Gangaa bertanya, “kalau begitu bagaimana aku akan memenuhi janjiku padamu?” Nenek berkeras, “tidak bsiakah kau mengerti? Hentikan permainan ini! kau harus mengalah pada mahant Ji.” Pertengkaran Gangaa dan nenek membuat Sahyogi tegang, “mengapa nenek ini ingin Gangaa kalah? Kalu sampai itu terjadi, Bal Mahant tidak akan bsia melakukan Jal Samadhi.” Sahyogi ingin drama itu dihentikan, “tak boleh ada yang masuk campur dalam kompetisi ini sekarang. Kompetisi ini harus komplet.”
Sudah dan para wanita meminta inspektor untuk menyelamatkan Gangaa. Tapi inspektur bilang kalau dirinya tidak ikut campur dalam masalah agama, “aku tak ingin kehilangan pekerjaan.” Sudha mengingatkan polisi itu akan tugasnya, “sudah tugasmu untuk menyelamatkan hidup orang. Mengapa kau di beri seragam ini kalau kau tidak bisa menyelamatkan gadis kecil?” Polisi itu menyarankan agar Sudha pulang ke asramanya dan berdoa. Sudha sangat tegang, “kita tak punya waktu lagi.”
Murid-murid Sahyogi mencekal nenek hendak mengusirnya keluar. Gangaa mengikuti mereka dan menyuruh mereka berhenti. Gangaa di suruh kembali duduk di kursinya. Nenek sekali lagi meminta gangaa agar tidak menjawab, “kau harus mengalah.” Sahyogi ingin tantangan di lanjutkan. Pertanyaa terakhir dari juri, “bunga apa yang di persembahkan pada Sri Khrisna dan berapa banyaknya?” Bal mahant tidak tahu jawabannya. Gangaa ingat nenek pernah memarahi Mehri sekali karena dia salah membawakan bungga untuk persembahan Sri Khrisna. Nenek kembali berisik agar Gangaa tidak menjawab pertanyaan itu. Sagar menanyai nenek, “mengapa tidak boleh? Nenek ingin Gangaa kalah dan mati dengan di tenggelamkan dalam air?” nenek tetap pada keputusannya, “satu sisi ada seorang ibu yang akan mati jika sesuatu terjadi pada anaknya. Di sisi lain ada Gangaa. AKu mungkin tidak menyukainya, dia telah merampas anakku, cucuku dariku tapi aku tak ingin dia mati. Ap ayang harus aku lakukan?” Sagar menyuruh Gangaa menjawab dengan cepat. nenek melarang. Sagar dan nenek bertengkar.
Sagar memberitahu Gangaa agar tidak mendengarkan nenek, “berikan jwabannya.” Nenek mengingatkan Gangaa agar tidak memberikan jawaban, “kau bsia menyelamatkan 2 nyawa.” Gangaa memikirkan hal itu, :”bisakan aku menyelamatkan 2 nyawa atau nenek mengatakannya untuk kepentingannya semata?” Juri pendeta menyuruh Mahant Ji menjawab pertanyaan itu.mahan berkata kalau dirinya tidak tahu jawabannya. Sahyogi meminta agar Gangaa menjawab, “kau tahu jawabannya kan? jawab pertanyaan itu!” Nenek dan Sagar berebut untuk mempengaruhi Gangaa. Nenek berpikir kalau Gangaa akan paham jika dia belihat ibu Bal Mahant, “dia tidak mempercayaiku!”
Orang-orang heran mengapa tidak ada yang menjawab pertanyaa. Sahyogi kembali memaksa gangaa agar menjawab pertanyaan itu. Gangaa bingung, “dia dengan Bal Mahant, tapi mengapa dia mendorongku terus?” Gangaa dengan terus terang bertanya, “kenapa kau ingin Mahant Ji kalah? Kau ingin dia melakukan Jal Samadhi?” Orang-orang mulai  memikirkan kata-kata Gangaa. Bal Mahant juga terlihat meragukan Sahyogi. Sahyogi langsung diam. Lonceng terjatuh dari tangan Mahant Ji. Kata-kata nenek dan ekspresi wajah Bal Mahant membuat Gangaa terdiam. Dia lalu memberi isyarat pada Bal mahant dengan tanganya. Bal Mahant melihat isyarat itu. Gangaa memberitahu jawabannya pada Bal Mahant dengan bahasa tubuh. Sahyogi dan Sagar melihat itu. Bal Mahant memahami jawabannya. Bal Mahant dengan cepat membunykan lonceng dan menjawab pertanyaanya. Bal Mahant balik mengkhawatirkan Gangaa karena kini dia yang harus melakukan Jal samadhi. Gangaa tersenyum lebar pada Bal Mahant. Dengan mata berkaca-kaca Bal Mahant menatap Gangaa… Sinopsis Gangaa episode 170 by Meysha Lestari